Selasa, 15 Mei 2012

sel prokariotik

0 komentar

Prokariotik : tidak memiliki membran nukleus, contoh: bakteri dan cyanobacteri.
Ciri-ciri sel prokariotik:
  • berukuran mikroskopik (panjang < 5 µm), diselubungi oleh dinding sel yang agak keras, sebagian memiliki lapisan polisakharida sehingga mencegah pemusnahan oleh sel darah putih. Dinding sel berpori dan bermembran untuk mengatur pergerakan larutan
  • Sitoplasma serupa dengan eukariotik
  • Bahan genetik DNA, umumnya terbentuk lingkaran pada satu kawasan disebut NUKLEOD / plasmid DNA, yang melekat pada membran plasma
  • Sebagian besar bakteria hidup pada daerah berair, sebagian lainnya memiliki lendir

Jumat, 02 Maret 2012

Mie ayam partelon paiton

0 komentar
Masa-masa SMA - Mie ayam partelon paiton.
Siang itu..
Seperti biasa bel sekolahku berbunyi dengan kerasnya. Tet..tet..tet..tet... 4 kali bel berbunyi menandakan waktunya pulang sekolah. Tapi tidak buatku, bagiku saat itu waktunya istirahat makan siang untuk bimbel nanti.
Tak kusangka teman kelasku mengagetkanku hingga handphone-ku jatuh ke tanah. Untung saja handphone-ku masih selamat. Usai itu,kami berbincang2 dan dia berbicara tentang kedai mie ayam favoritnya. Entah ada apa di pikiranku saat itu sampai2 aku tertarik untuk mencobanya. Padahal sebelumnya aku anti banget ama yang namanya "mie".
Entahlah..
Mungkin karena perutku 'asli kosong banget'.
Ya udah kami menuju ke parkiran mencolokkan kontak sepeda motor kami. Memencet 'starter' dengan cepatnya.
Wuussh...
Kami berkendara seakan2 dikejar polisi. Tak lama kita udah sampai ke kedai mie ayam itu. Karena emang gak jauh dari sekolah kami. Tepatnya di pertigaan itu. Tempat orang membanting setir ke timur,ke barat dan ke selatan. Terlihat dari jauh seorang pria melayani pelanggannya. Tak sabar ku ingin mencicipinya (eh.. Jangan negatif thinking dulu ya!! Bukan mencicipi si pria itu tapi mie ayam yang dibuatnya).
Aku duduk sejenak di kedai itu lalu si pria itu menghampiriku dan berkata "pesan apa mas?".
Aku jawab "mie ayam 2 pak!!".
Aku tunggu pesananku. Didepanku aku melihat 'krupuk putih' bergelantungan di depan mataku.
'aku tergoda'(hehe.. Itu sih kata five minutes).
Aku menariknya dengan pelan.
"kres..kres.." kudengar bunyi itu bergoyang di mulutku.
Tak berapa lama, pesananku sudah tiba. Tiba saatnya untuk mengisi kekosongan hati. (eh.. Kekosongan perut maksudnya).
"awesome". Mie ayam ini kok enak banget ya!! Semangkok mie yang menggugah selera bertabur potongan ayam di atasnya.
Mmm.. Yummy!!!
Rasa yang special yang belum singgah di lidahku sebelumnya. Mie ayam itu menghapus rasa laparku.

"say yes to mie ayam!!"

Rabu, 29 Februari 2012

Cara Menggunakan Netcut

1 komentar
Netcut. Apakah Anda pernah merasa kesal bermain wifi?. Apakah anda sering main wifi di cafe? Apakah Anda akan berteriak dan memarahi pemilik cafe tersebut? Cara Menggunakan 

 


Tidak perlu. Gunakan saja cara yang halus, Menggunakan Netcut yang memutuskan koneksi internet. Apakah Anda percaya bahwa Anda bisa memutuskan koneksi internet orang? Anda kan bukan operator. Anda harus percaya, karena Anda akan dapat melakukannya segera. Berikut langkah-langkahnya:




1. Silahkan download program NetCut. Karena tanpa program ini Anda tidak dapat melakukannya. Silahkan download programnya di sini
2. Silakan instal di komputer Anda.
3. Setelah selesai instalasi buka program netcut.
4. Ada alamat ip dan nama komputer.
5. Kemudian Anda pilih komputer (ip adress) mana yang akan Anda potong dengan mengklik cut off.

Lakukan dengan benar!! Sekarang Anda bisa. Saya harap Anda tidak menggunakannya untuk kejahatan. Gunakan dengan bijak. Gunakanlah jika Anda benar-benar kesal. hehe

Selasa, 28 Februari 2012

Program Bilangan Prima / Deret Bilangan Prima

1 komentar
Setelah postingan yang sebelumnya tentang Kalkulator Delphi 7 sederhana, kali ini saya akan bagikan kode/listing untuk program deret bilangan prima pada delphi 7.

Deret Bilangan Prima:




Menggunakan listing sebagai berikut:

unit Unit1;

interface

uses
  Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms,
  Dialogs, StdCtrls, ExtCtrls;

type
  TForm1 = class(TForm)
    ListBox1: TListBox;
    btn_proses: TButton;
    Label1: TLabel;
    Timer1: TTimer;
    Timer2: TTimer;
    btn_keluar: TButton;
    procedure btn_prosesClick(Sender: TObject);
    procedure Timer1Timer(Sender: TObject);
    procedure FormCreate(Sender: TObject);
    procedure Timer2Timer(Sender: TObject);
    procedure btn_keluarClick(Sender: TObject);
  private
    { Private declarations }
  public
    { Public declarations }
  end;

var
  Form1: TForm1;
  n:integer;

implementation

{$R *.dfm}

procedure TForm1.btn_prosesClick(Sender: TObject);
var
  a,b,c   : integer;
  p       : boolean;
begin
    ListBox1.Items.Clear;
  for a:=2 to 1000 do
  begin
  b:=2;
  p:=true;
  while (b<=a-1) and p do
    begin
    c:=a mod b;
    if c=0 then p:=false;
    b:=b+1;
    end;
  if p=true then
    ListBox1.Items.Add(IntToStr(a));
  end;
end;

procedure TForm1.Timer1Timer(Sender: TObject);
begin
  if Label1.Visible=true then
  Label1.Visible:=false
  else
  Label1.Visible:=true;
end;

procedure TForm1.FormCreate(Sender: TObject);
begin
  n:=0;
end;

procedure TForm1.Timer2Timer(Sender: TObject);
begin
  n:=n+1;
  if n=1 then Form1.Caption:='D';
  if n=2 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'e';
  if n=3 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'r';
  if n=4 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'e';
  if n=5 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'t';
  if n=6 then Form1.Caption:=Form1.Caption+' ';
  if n=7 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'B';
  if n=8 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'i';
  if n=9 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'l';
  if n=10 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'a';
  if n=11 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'n';
  if n=12 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'g';
  if n=13 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'a';
  if n=14 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'n';
  if n=15 then Form1.Caption:=Form1.Caption+' ';
  if n=16 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'P';
  if n=17 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'r';
  if n=18 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'i';
  if n=19 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'m';
  if n=20 then Form1.Caption:=Form1.Caption+'a';
  if n=21 then
    begin
    Form1.Caption:=' ';
    n:=0;
    end;
end;

procedure TForm1.btn_keluarClick(Sender: TObject);
begin
  If(Application.MessageBox( 'Yakin Mau Keluar ?' ,'Informasi' ,mb_yesno)=idyes) then
close;
end;

end.






Tampilannya seperti ini :





Kalkulator Delphi 7 sederhana

0 komentar
Kalkulator delphi 7 sederhana. Mungkin banyak yang sudah mengenal kalkulator. Tapi pernah terfikir gak sih tentang cara membuatnya? Mata kuliah pemrograman tentang kalkulator ini saya dapat ketika masih kuliah di STTNJ Paiton prodi Teknik Informatika. Disini saya sediakan kodenya untuk anda. (Baca juga Program Bilangan Prima)

Kalkulator Sederhana :



Menggunakan kode sebagai berikut :

unit Unit1;

interface

uses
  Windows, Messages, SysUtils, Variants, Classes, Graphics, Controls, Forms,
  Dialogs, StdCtrls;

type
  TForm1 = class(TForm)
    Label1: TLabel;
    Edit1: TEdit;
    Edit2: TEdit;
    btn_tambah: TButton;
    btn_kali: TButton;
    btn_bagi: TButton;
    btn_kurang: TButton;
    Edit3: TEdit;
    btn_bersih: TButton;
    btn_keluar: TButton;
    procedure btn_tambahClick(Sender: TObject);
    procedure btn_kaliClick(Sender: TObject);
    procedure btn_kurangClick(Sender: TObject);
    procedure btn_bagiClick(Sender: TObject);
    procedure btn_bersihClick(Sender: TObject);
    procedure btn_keluarClick(Sender: TObject);
  private
    { Private declarations }
  public
    { Public declarations }
  end;

var
  Form1: TForm1;

implementation

uses Math;

{$R *.dfm}

procedure TForm1.btn_tambahClick(Sender: TObject);
var
  A,B,C:Real;
begin
  A:=StrToFloat(Edit1.Text);
  B:=StrToFloat(Edit2.Text);
  C:=A+B;
  Edit3.Text:=FloatToStr(C)
end;

procedure TForm1.btn_kaliClick(Sender: TObject);
var
  A,B,C:Real;
begin
  A:=StrToFloat(Edit1.Text);
  B:=StrToFloat(Edit2.Text);
  C:=A*B;
  Edit3.Text:=FloatToStr(C)
end;

procedure TForm1.btn_kurangClick(Sender: TObject);
var
  A,B,C:Real;
begin
  A:=StrToFloat(Edit1.Text);
  B:=StrToFloat(Edit2.Text);
  C:=A-B;
  Edit3.Text:=FloatToStr(C)
end;

procedure TForm1.btn_bagiClick(Sender: TObject);
var
  A,B,C:Real;
begin
  A:=StrToFloat(Edit1.Text);
  B:=StrToFloat(Edit2.Text);
  C:=A/B;
  Edit3.Text:=FloatToStr(C)
end;

procedure TForm1.btn_bersihClick(Sender: TObject);
begin
  Edit1.Text:='';
  Edit2.Text:='';
  Edit3.Text:='';
  Edit1.SetFocus
end;

procedure TForm1.btn_keluarClick(Sender: TObject);
begin
  If(Application.MessageBox( 'Yakin Mau Keluar ?' ,'Informasi' ,mb_yesno)=idyes) then
close;
end;

end.






Tampilannya seperti ini :





Proses Pembuatan Pupuk Kompos

0 komentar
Proses pengomposan melibatkan empat komponen utama: bahan organik, kelembaban, oksigen, dan bakteri. Bahan organik proses pembuatan pupuk kompos termasuk bahan tanaman dan kotoran hewan. Bahan organik yang digunakan untuk kompos harus mencakup campuran bahan organik coklat (daun-daun kering, ranting, pupuk kandang) dan bahan organik hijau (rumput, kulit buah, dll).




Bahan coklat memasok karbon, sementara bahan hijau memasok nitrogen. Mencabik, memotong bahan-bahan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil akan membantu mempercepat proses pengomposan.




Kelembaban adalah penting untuk mendukung proses pengomposan. Jika tumpukan terlalu kering, bahan akan terurai sangat lambat. Tambahkan air selama periode kering atau saat menambahkan sejumlah besar bahan organik coklat.

Oksigen diperlukan untuk mendukung pemecahan bahan tanaman oleh bakteri. Untuk memasok oksigen, Anda perlu untuk mengubah tumpukan kompos sehingga bahan pada ujung-ujungnya dibawa ke tengah tumpukan. Pengaturan tumpukan penting bagi pengomposan dan untuk mengendalikan bau.

Tunggu setidaknya dua minggu, untuk memungkinkan proses pembuatan pupuk kompos pusat tumpukan panas dan membusuk. Setelah tumpukan sudah dingin di tengah, dekomposisi bahan telah terjadi.

Bakteri dan mikroorganisme lainnya adalah aspek penting dalam proses kompos. Dengan menyediakan bahan organik, air, dan oksigen, bakteri sudah ada akan memecah bahan tanaman menjadi kompos yang berguna untuk kebun. Bakteri menguraikan bahan, mereka melepaskan panas, yang terkonsentrasi di tengah tumpukan.

Anda juga dapat menambahkan lapisan tanah atau kompos dalam proses pembuatan pupuk kompos untuk memasok lebih banyak bakteri dan mempercepat proses pengomposan. Tetapi seharusnya tidak perlu untuk tumpukan kompos yang memiliki karbon yang tepat untuk rasio nitrogen (1 bagian bahan organik hijau untuk bahan 1 bagian organik coklat).




Selain bakteri, organisme yang lebih besar termasuk serangga dan cacing tanah merupakan pembuat kompos aktif. Organisme ini memecah bahan besar di tumpukan kompos.

Contoh Cover Laporan Praktikum

0 komentar
LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR
HUKUM OHM
PERCOBAAN – L.1

Disusun oleh     :  
Nama                 : Row Sheet 
NIM                   : 115080205117099
Kelompok         : 139
Nama Asisten    : Teguh Pribadi








FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

Laporan Praktikum Fisika Viscositas Zat Cair

1 komentar
1.    PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Viscositas adalah gesekan interval, gaya viskos melawan gerakan sebagai fluida relatif terhadap yang lain. Viscositas adalah alasan diperlukannya usaha untuk mendayung perahu melalui air yang tenang, tetapi juga merupakan suatu alasan mengapa dayung bisa bekerja. Efek viskos merupakan hasil yang penting dalam pipa aliran darah. Pelumasan bagian dalam mesin fluida viskos cenderung melekat pada permukaan zat yang bersentuhan dengannya (Sears, 1982).
Diantara salah satu sifat zat cair adalah kental (viskos) dimana zat cair memiliki kekentalan yang berbeda-beda materinya, misalnya kekentalan minyak goreng dengan kekentalan oli. Dengan sifat ini zat cair banyak digunakan dalam dunia otomotif yaitu sebagai pelumas mesin. Telah diketahui bahwa pelumas yang dibutuhkan tiap-tiap mesin membutuhkan kekentalan yang berbeda-beda (Budianto, 2008).

1.2  Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair adalah untuk mengetahui viskositas zat cair berdasarkan hukum stokes.
Tujuan dari praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair adalah untuk menentukan koefisien  zat cair madu, glyserin dan minyak goreng

1.3  Waktu dan Tempat
Praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair dilaksanakan pada hari Selasa, 15 November 2011 pukul 06.30-09.00 WIB.
Praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair dilaksanakan di Laboratorium Hidrobiologi Gedung C Lantai 1, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang.



  
2.    TINJAUAN PUSTAKA


2.1  Definisi Viscositas
Viscositas adalah fenomena transpor ketiga yang berlaku untuk gas (dan untuk fluida secara umum) (Alonso, 1994).
Viscositas dalam istilah orang awam adalah ukuran kekentalan suatu cairan. Semakin besar nilai viscositas maka semakin besar pula kekentalan cairan tersebut. Secara umum viscositas terdapat pada fluida seperti zat cair dan gas (Suciati, 2008).
Viscositas atau kekentalan dari suatu cairan adalah salah satu sifat cairan yang menentukan besarnya perlawanan terhadap gaya gesek. Viscositas terjadi terutama karena adanya interaksi antara molekul-molekul cairan (Erizal, 2010).

2.2  Definisi Fluida
Fluida adalah zat yang menempati ruang dan zat yang dapat mengalir. Dalam hal ini fluida adalah zat gas dan zat cair. Viscositas lainnya ada fluida riil atau fluida nyata (Fluida yang kita temui sehari-hari) (Lohat, 2009).
Fluida adalah suatu zat yang bentuknya dapat berubah secara kontinu akibat gaya geser pada benda padat. Gaya geser manyebabkan terjadinya perubahan bentuk atau deformasi, yang tidak berubah besarnya selama gaya yang bekerja ini besarnya tetap. Akan tetapi, baik Fluida Viskos maupun encer akan mengalami pergerakan antara satu bagian terhadap bagian lainnya bila ada gaya geser yang bekerja padanya. Jadi dapat dikatakan bahwa fluida tidak dapat menahan gaya geser (Hariyono, 1983).
Fluida adalah zat-zat yang mampu mengalir dan yang sesuai dengan bentuk yang mengandung pembuluh. Volume cairan menempati dan pasti memiliki permukaan bebas, sedangkan suatu massa gas berkembang sampai menempati semua bagian dari setiap kapal (Gilles, 1986).

2.3  Hukum Poiseville
Satuan Sistem Internasional (SI) untuk koefisien viskositas adalah N S/m2 = Pas (Pascal Sekon), satuan cgs (centimeter gram sekon). Untuk koefisien viscositas adalah dengan S/cm2 = Poise (P). Satuan Poise digunakan untuk mengenang seorang ilmuwan peranan yaitu Jean Louis Matle Poiseville (Sutrisno, 1981).
Hukum Poiseville menyatakan bahwa cairan yang mengalir melalui saluran pipa akan berbanding langsung dengan penurunan tekanan sepanjang pipa dan pangkat empat jari-jari pipa (Reynold, 2000).

2.4  Hukum Stokes dan Kecepatan Terminal
Hukum Stokes adalah tentang gerak bola dalam fluida yang kental yang melalui viscositas menimbulkan gaya gesek sebesar F = -Gph rV dimana h = viscositas fluida dan r = radius bola (Administrator, 2008).
Hukum Stokes adalah dasar dari viscometer jatuh bola, dimana fluida stasioner dalam tabung gelar vertical yang dapat diukur dengan waktu yang dibutuhkan untuk dua tanda Po tabung (Djojodiharjo, 1983).
Kecepatan terminal adalah sebuah benda yang jatuh bebas dalam fluida kental. Selama gerakannya, pada benda tersebut bekerja tiga buah gaya. Gaya-gaya yang bekerja pada benda adalah seimbang (Souja, 1998).
Kecepatan terminal adalah kecepatan konstan yang dialami suatu objek yang jatuh bebas karena pengaruh gravitasi dan gaya hambatan udara. Dimana disini : gaya tarik gravitasi (Fg) = gaya lambat udara (Fd) (Tinler, 1998).




3.    METODOLOGI


3.1  Alat dan Fungsi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair adalah :
·         Gelas ukur 1000 ml                 : sebagai wadah gliserin, minyak goreng                                                                     dan madu
·         Jangka Sorong                        : untuk mengukur diameter luar dan dalam                                                                 dari gelas ukur
·         Mikrometer Sekrup                 : untuk mengukur diameter bola besi
·         Bola besi                                  : sebagai parameter viscositas
·         Meteran atau penggaris          : untuk mengukur ketinggian gelas ukur                                                                      pada jarak 20 cm dan 30 cm
·         Magnet                                    : untuk mengambil bola besi dari gelas ukur
·         Nampan                                  : sebagai wadah alat dan bahan
·         Timbangan digital matler         : untuk mengukur berat bola besi dengan                                                                    kelelitian 10-4
·         Stopwatch                               : untuk mengukur waktu pengamatan.
·         Karet gelang                            : untuk menandai jarak 20 dan 30 cm pada                                                                 gelas ukur
·         Tali                                           : untuk mengikat magnet

3.2  Bahan dan Fungsi
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair adalah :
·         Madu                                       : sebagai bahan yang diuji viscositasnya
·         Minyak goreng                        : sebagai bahan yang diuji viscositasnya
·         Gliserin                                    : sebagai bahan yang diuji viscositasnya
·         Tissue                                      : untuk membersihkan alat


3.3  Skema Kerja

Disiapkan alat dan bahan

Disiapkan zat cair minyak goreng, madu dan gliserin

Ditimbang bola besi dengan Timbangan Digital Matler

Diukur bola besi dengan Mikrometer Sekrup

Diukur diameter gelas ukur menggunakan Jangka Sorong

Diukur jarak 30 cm dan 20 cm dengan karet

Dimasukkan bola besi ke gelas ukur
         
Dihitung waktu dengan stopwatch


 Diambil bola besi dengan magnet

Dicatat

Hasil




4.    PEMBAHASAN


4.1  Data Pengamatan

No
Fluida
Massa
Bola (gr)
ρ0
(gr/cm2)
R
(cm)
R
(cm)
Jarak
(cm)
Waktu
(s)
Vg
(cm/s)
ƞ (gr/cm)
1
Madu
0,432
0,9
3,21
0,026
20
1,34
15,21
67,6 . 10-4
30
2,25
13,59
77,6 . 10-4
2
Gliserin
0,432
1,3
3,21
0,026
20
0,5
40,76
27,04 . 10-4
30
1,2
25,475
40,56 . 10-4
3
Minyak Goreng
0,432
0,9
3,21
0,026
20
0,31
65,74
16,22 . 10-4
30
0,59
51,81
20,28 . 10-4


4.2  Perhitungan Data
·         Diameter bola besi
       = bola besi . g
       = 0,342 . 10
= 4,32 g
·         Diameter dalam gelas ukur
= diameter luar - tebal tabung
= 6,44-0,02
= 6,42 cm
·         Jari-jari dalam tabung
= ½ . diameter bola besi
= ½ . 0,0521
= 0,02605 cm
·         Perhitungan kecepatan terminal
a)    Madu
Ketinggian 20 cm, waktu = 1,34 s
15,21 cm/s
Ketinggian 30 cm, waktu = 2,25 s
13,59 cm/s

b)    Gliserin
Ketinggian 20 cm, waktu = 0,5 s
40,76 cm/s
Ketinggian 30 cm, waktu = 1,2 s
25,475 cm/s

c)    Minyak goreng
Ketinggian 20 cm, waktu = 0,31 s
65,76 cm/s
Ketinggian 30 cm, waktu = 0,59 s
51,81 cm/s

·         Perhitungan Viskositas
a)    Madu
Ketinggian 20 cm, waktu = 1,34 s
67,6 . 10-4 Poisse
Ketinggian 30 cm, waktu = 2,25 s
77,06 . 10-4 Poisse

b)    Gliserin
Ketinggian 20 cm, waktu = 0,5 s
27,04 10-4 Poisse
Ketinggian 30 cm, waktu = 1,2 s
40,56 10-4 Poisse

c)    Minyak goreng
Ketinggian 20 cm, waktu = 0,31 s
16,22 . 10-4 Poisse
Ketinggian 30 cm, waktu = 0,59 s
20,28 . 10-4 Poisse

4.3  Analisa Prosedur
Pada praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair, pertama disiapkan alat dan bahan. Adapun alat yang digunakan adalah gelas ukur, jangka sorong, bola besi, mikrometer sekrup, timbangan digital matler, meteran, karet, stopwatch, nampan, magnet dan tali. Sedangkan bahan yang digunakan adalah madu, minyak goreng, gliserin dan tissue.
Setelah alat dan bahan disiapkan, ditimbang bola besi dengan timbangan digital matler dengan ketelitian 10-4. Kemudian diukur diameter bola besi dengan mikrometer sekrup. Setelah itu diukur diameter dan tebal gelas dengan menggunakan jangka sorong. Lalu gelas ukur diukur pada ketinggian 20 cm dan 30 cm, tandai dengan karet kemudian dimasukkan bola besi pada minyak goreng dan hitung waktu dengan stopwatch pada saat bola besi mencapai ketinggian 20 cm dan 30 cm. Dengan cara yang sama seperti pada minyak goreng, bola besi dimasukkan pada gliserin dan hitung waktunya menggunakan stopwatch pada saat bola besi mencapai ketinggian 20 cm dan 30 cm. Lalu masukkan bola besi pada madu dan hitung waktunya menggunakan stopwatch pada saat bola besi mencapai ketinggian 20 cm dan 30 cm. Kemudian catat hasilnya.
Kemudian menghitung kecepatan terminal yang dilambangkan (Vg) dengan menggunakan rumus :
            
Dimana (h) adalah ketinggian zat cair yang ditempuh bola besi, t adalah waktu yang dibutuhkan bola besi untuk mencapai ketinggian (h), r adalah jari-jari bola besi dan R adalah jari-jari gelas ukur.
     Kemudian menghitung viscositas yang dilambangkan dengan rumus             dimana ρB adalah massa jenis bola besi (7,87 gr/cm3). Sedangkan ρ0 adalah massa jenis zat cair. ρ0 madu dan minyak goreng adalah 0,9 gr/cm3. Sedangkan ρ0 gliserin adalah 1,3 gr/cm3.

4.4  Analisa Hasil
Pada praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair, diperoleh hasil sebagai berikut: waktu yang diperlukan bola besi untuk mencapai ketinggian 20 cm dan 30 cm, berbeda untuk setiap zat cair dan tergantung pada tingkat viscositasnya. Semakin tinggi viscositas, maka gerakan bola besi akan semakin lambat. Semakin rendah viscositas, maka gerakan bola besi akan semakin cepat.
Pada saat bola besi dimasukkan dalam gelas ukur yang berisi minyak goreng, waktu yang diperlukan bola besi untuk mencapai ketinggian 20 cm adalah 0,31 detik, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian  30 cm adalah 0,59 detik. Pada saat bola besi dimasukkan dalam gelas ukur yang berisi madu, waktu yang diperlukan bola besi untuk mencapai ketinggian 20 cm adalah 1,34 detik, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian  30 cm adalah 2,25 detik. Pada saat bola besi dimasukkan dalam gelas ukur yang berisi gliserin, waktu yang diperlukan bola besi untuk mencapai ketinggian 20 cm adalah 0,5 detik, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian  30 cm adalah 1,2 detik.
Dari data yang diperoleh, menandakan bahwa zat cair yang memiliki viscositas paling tinggi adalah madu, sedangkan zat cair yang memiliki viscositas paling rendah adalah minyak goreng.
Hukum viscositas newton menyatakan bahwa untuk laju perubahan sudut fluida yang tertentu maka tegangan geser berbanding lurus dengan viscositas gula tetes dan merupakan contoh cairan yang sangat viskos. Air dan udara mempunyai viscositas yang sangat kecil.




5.    PENUTUP


5.1  Kesimpulan
Dari praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair dapat disimpulkan bahwa :
·      Viscositas adalah fluida yang diberikannya tahanan terhadap tegangan geser fluida.
·      Fluida adalah zat-zat yang berubah bentuk secara kontinue bila terkena gaya geser.
·      Viscositas zat cair yang paling rendah adalah minyak goreng dan viscositas yang paling tinggi adalah madu.

5.2  Saran
Dalam praktikum Fisika Dasar tentang Viscositas Zat Cair diharapkan para praktikan lebih aktif dan lebih teliti dalam melakukan pengukuran atau pengamatan karena sangat menentukan nilai perhitungan koefisien zat cair maupun penghitungan detilnya.




DAFTAR PUSTAKA


Administrator. 2008. http://www.fisikaasyik.com/homecontent/view/64/44/administrator.html.  Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 14.10
Alonso, Marcel and Edward J Finn. 1994. Dasar-dasar Fisika. Erlangga. Jakarta
Budianto, Anwar. 2008. Jurnal: Metode Pembuatan Koefisien Viscositas Zat Cair. http://jurnal.sttbaton.ac.id/pdf. Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 14.20
Djodjodiharjo. 1983. Hukum Stokes. ITS. Surabaya
Erizal. 2010. http://ilmufisika.com/fluida. Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 15.00
Gilles. 1986. Fluid Mechanics and Hydroulious Survey: Department of Mechanical Engineering University
Hariyono. 1983. Fluida. Bandung: Cu Yarma Widya
Lohat. 2010. Fluida. http://guru_muda.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 19.25
Reynold. 2000. Hukum Poiseville. http://laporanfisika.com/hukum-poiseville/.  Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 18.45
Sears. 1982. Pengertian Viscositas. http://viscositas.co.id. Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 18.30
Souja. 1998. Viscositas dan Kecepatan Terminal http://www.lord.edu/faculty/lineseed/ diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 15.15
Suciati. 2008. Viscositas. http://fisikaasik.blogspot.com. Diakses pada tanggal 15 November 2011 pukul 14.30
Sutrisno 1981. Fisika Dasar Mekanika. ITB. Bandung
Tinler, Paul P. 1998. Phsycs. Cambrige Press. United Kingdom
Warung Online